aLamathuR.com - Setiap hari, kita disuguhi rentetan berita politik dan kekacauan sosial yang membanjiri lini masa. Dari perdebatan sengit di media sosial hingga narasi yang saling bertentangan, semua informasi ini datang begitu cepat, mengancam kestabilan emosi kita. Di tengah hiruk pikuk ini, penting bagi masyarakat Indonesia untuk berhenti sejenak dan melakukan refleksi diri. Mengapa kita begitu mudah terombang-ambing oleh berita? Mengapa kemarahan dan kecemasan sering kali menjadi respons pertama?
Ketika Otak Mengambil Alih: Respon Emosional vs. Rasional
Secara psikologis, otak kita memiliki dua sistem utama: sistem limbik yang bertanggung jawab atas emosi dan reaksi cepat (sering disebut sebagai "otak reptil") dan korteks prefrontal yang mengatur pemikiran rasional, analisis, dan pengambilan keputusan. Saat kita terpapar berita provokatif atau narasi yang memicu amarah, sistem limbik kita langsung bereaksi. Kita merasa perlu membela "pihak kita" atau menyerang "pihak lawan". Ini adalah mekanisme bertahan hidup yang kuno, namun sering kali tidak relevan dalam konteks modern.
Tanpa disadari, kita terjebak dalam spiral reaktif. Kita bereaksi tanpa berpikir, membagikan konten yang emosional, dan terlibat dalam perdebatan tanpa data yang valid. Kita lupa bahwa ada jeda antara stimulus dan respons. Jeda inilah yang memberi kita kesempatan untuk menggunakan korteks prefrontal. Dengan melatih jeda ini, kita dapat memilih untuk merespons dengan tenang, alih-alih bereaksi secara impulsif.
Mengembangkan "Mental Hygiene" di Era Digital
Sama seperti kita menjaga kebersihan fisik, kita juga perlu menjaga kesehatan mental di dunia digital. Caranya adalah dengan menerapkan "mental hygiene" yang ketat. Pertama, batasi konsumsi berita; tidak semua yang viral perlu kita ketahui saat itu juga. Kedua, verifikasi informasi sebelum membagikannya. Tanyakan pada diri sendiri, "Apakah berita ini valid? Apakah sumbernya terpercaya?" Terakhir, dan yang paling penting, kembali ke diri sendiri.
Tanyakan pada diri Anda: "Apakah respons ini datang dari ketenangan atau amarah? Apakah ini benar-benar penting bagi saya secara pribadi?" Dengan melatih kesadaran diri ini, kita bisa menciptakan ruang pribadi yang damai, di mana emosi tidak lagi dikendalikan oleh algoritma atau narasi orang lain. Ini adalah langkah kecil namun krusial untuk menjaga kedamaian batin di tengah badai informasi. Bukankah lebih baik menjadi bagian dari solusi yang tenang daripada terjebak dalam kekacauan yang bising?
0 comments:
Post a Comment