MyBlackPies before it was replaced by Red-PZZO

There are so many memories that are passed with myBlackPies : community events, working agenda, drove my wife work, and also to get to know a lot of brotherhood with fellow pulsar riders.

Guha Lalay : Touring Pulsarian 2014

Selfie at Guha Lalay, Rancabuaya Beach Area. Sout Garut, West Java 2014.

Familiy : Everything started from an unification!

My family gathered at my wedding ceremony in March 2014 at INTI Building, Bandung. West Java.

The Solemnization of a Marriage

Procession which was held on March, 2nd 2014 pledge sacred promise between two people in marriage.

Brotherhood Still Number One

A thousand friends will be very less, the only enemies will be too much.

Hati-hati Dengan Tagihan Tunggakan Iuran BPJS!

aLamathuR.com – Tulisan ini sebenarnya hanya sharing dari pengalaman istri saya yang pernah menerima surat tagihan iuran tunggakan BPJS Mandirinya beberapa waktu lalu. Karena kebetulan diakhir tahun 2014 lalu pernah mendaftar BPJS mandiri via online dan selama bulan-bulan awal kepesertaan rutin membayar iuran bulanannya untuk kelas 1, yaitu Rp 59.000. Tapi beberapa bulan kemudian, istri saya saya ikut sertakan dalam program BPJS kantor saya, sehingga iurannya menjadi tanggungan saya di kantor, termasuk Anak. AKhirnya iuran yang biasanya rutin dibayar via ATM pun distop.


Setelah saya diminta kantor melengkapi dokumen untuk pendaftaran kepesertaan BPJS termasuk istri saya. Hasilnya? Kantor berhasil mengurus kartu BPJS saya dan istri. Tapi kejanggalan dimulai, istri saya mendapatkan kartu BPJS baru dengan nomor kepesertaan yang berbeda tapi dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang sama. Artinya satu KTP bisa untuk lebih dari 1 (satu) kepesertaan BPJS?  Itulah yang terjadi... Akhirnya saya konfirmasi ke kantor BPJS dan menanyakan hal ini. Jawabannya adalah memang 1 NIK hanya bisa mendapatkan 1 kepesertaan BPJS. Artinya, jika ada kasus seperti ini maka sistem yang selama ini berjalan di internal kantor BPJS masih ada celah kekeliruan. Sebagai peserta, apakah kita harus maklum?? ...silahkan anda menilai sendiri.

Karena awalnya saya yakin dengan sistem 1 NIK 1 Kepesertaan, maka selanjutnya istri saya pun tidak pernah membayarkan lagi iuran BPJS mandirinya yang biasanya dibayar lewat ATM Rp 59ribu/bulan. Anggapan awal bahwa ini akan otomatis terupdate ternyata meleset.

Pihak BPJS akhirnya mengirimkan tagihannya ke rumah setelah 6 bulan terakhir tidak pernah membayarkan iuran. Secara pribadi, terus terang pastinya kita keberatan, dengan pertimbangan banyak alasan :

Istri saya tidak pernah menikmati manfaat kesehatannya selama periode kepesertaan dari awal. Saya lupa entah karena jarang sakit atau memang males menggunakan BPJS dengan cara penanganan yang sering masih “dianaktirikan” oleh faskes maupun RS. Adanya celah kekeliruan di BPJS sendiri 1 NIK, bisa 2 Nomor Peserta menjadi alasan lain mengapa saya keberatan dengan hal ini.

Tapi bagaimanapun setelah saya berkonsultasi kesana-kemari sampai dengan hari ini saya masih berjuang untuk sesuatu yang menurut saya sendiri sebenarnya hanya sekedar berusaha. Sukur-sukur kalau akhirnya sukses diterima dengan terbuka oleh pihk BPJSnya.

Dari kasus yang saya sharing diatas ada satu poin penting yang perlu dicatat. Terutama untuk anda yang merasa pernah merasa mendaftar atau memiliki BPJS mandiri baik via internet/online maupun daftar langsung di kantor BPJS, tapi sudah tidak pernah membayar iurannya, mendingan segera dikonfirmasi ke kantor BPJS untuk minta ditutup. Karena jika tidak, maka tagihan akan terus diakumulasikan setiap bulannya plus ada dendanya juga.


Mudah-mudah sharing ini ada manfaatnya untuk kita semua....... Amiin

Bereksplorasi Dengan Extube dan Lightroom

aLamathuR.com - Postingan kali ini bukan mau cerita tentang pengalaman hunting foto seperti yang pernah dimuat dalam tulisan sebelumnya (yang ini, ini, atau yang ini), tapi sekedar sharing hasil eksplorasi kamera Nikon D3000 jadul saya yang ditempeli dengan Extension Tube Manual seharga seratus ribuan plus sentuhan akhir Adobe Lightroom. Meskipun hasilnya masih terlihat sangat amatir, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba terus belajar dan belajar. Karena fotografer sekaliber Darwis Triadi atau Jerru Aurum sekalipun pasti awalnya pernah bikin foto yang tidak bagus.










Note :
Semua objek foto adalah binatang dan benda yang ada di jendela kamar sendiri. Hehee...

Bajaj Pulsar 220 : Facelift Minor

aLamathuR.com - "RedPZZO Standar, siap-siap digarap untuk modif berikutnya". Inilah kalimat terakhir dari tulisan Goodbye my lovely blackpies yang sempat diposting beberapa bulan lalu. Tulisan inilah yang menjadi lanjutannya. Ada perubahan disana-sini, meskipun dalam prosesnya ada yang sempat didokumentasikan, tak sedikit juga yang hanya bisa ditampilkan hasil akhirnya. Setidaknya mudah-mudahan ini bisa menjadi sedikit inspirasi buat para pecinta Bajaj Pulsar di tanah air.

Sebenarnya ini belum pantas jika disebut modifikasi, tetapi hanya memberikan sentuhan lain, berupa variasi baik yang berasal dari produk aftermarket maupun yang custom, alias bikin sendiri. Kalaupun mau tetap disebut modifikasi, maka saya sebut ini sebagai modifikasi minor. Karena murni hanya main di visual berupa tambahan aksesoris. Selebihnya belum tergarap....

Windshield, Sidebox, Crashbar, Engine Guard
Ban Swallow SB117
Engine MudGuard, Engine Guard, Crashbar

Handlebar P200, Switch Control, Voltmeter, GPS Holder, Bottle Holder
Full Box, Larsen Antenna
SideView_1 : Sidebox Normal

SideView_2 : Sidebox Pasang Terbalik

SideView_Closer

Front View_1

Back View

Front View _ Closer
 
Upper View
Segitu aja dulu yah... next dilanjut.
O iya, perkenalkan : ini mekaniknya.....

Bro Asen, juragan Next Step Bajaj Moto / Pasirkoja - Bandung
Dan ini yang punyanya.. mau narsis juga....



Penulis Sejati, Ide Tanpa Batas

aLamathuR.com - Menjadi seorang penulis adalah tentang menguasai apa yang akan orang lain (pembaca, red) ingin rasakan, ingin ketahui atau sekedar ingin belajar sesuatu yang belum pernah didapatkannya dari pengalaman sebelumnya. Menjadi penulis juga berbicara mengenai bagaimana cara mempengaruhi pola pikir pembaca untuk bisa dipaksa memahami sebuah ide, menyerapnya, mengiyakannya, atau bahkan memberikan bantahan terhadapnya.

I Don't Read What I Sign

aLamathuR.com - Satu dua bulan terakhir jargon “I Don't Read What I Sign” menjadi ngetrend di kalangan netter, tak terkecuali di media sosial. Pemicunya tentu saja dari kasus munculnya perpres kenaikan tunjuangan uang muka pembelian mobil pribadi pejabat di negeri ini beberapa waktu lalu. Setelah kebijakan ini menuai kritik keras dari tengah masyarakat dan menjadi polemik, ternyata yang terjadi kemudian, kebijakan ini (katanya) dicabut lagi dengan dalih sewaktu tanda tangan draft  tersebut tidak sempat dibaca dulu secara teliti apa yang poin-poin yang diusulkan. Dan akhirnya katanya JKW merasa kecolongan atas tindakannya sendiri. Sebagai pribadi, masyarakat memaklumi jika setiap orang bisa saja berbuat khilaf dan kurang teliti. Tapi persoalannya menjadi lain ketika yang bersangkutan adalah berada di level sebagai seorang kepala negara.

Belajar dari kasus tersebut, ada sebuah pelajaran berharga yang bisa dipetik. Istilah “I Don't Read What I Sign” sebetulnya bukan hanya dosa kepala negara saja. Contoh sehari-hari, yang paling gampang dan hampir rata-rata kita alami adalah ketika kita mengajukan kredit, baik kredit motor, kredit mobil, kredit elektronik, terkecuali kredit panci. Pada saat akad kredit, ada banyak sekali halaman dokumen yang harus diparaf atau ditandatangani. Apakah saat kita paraf kita membaca apa yang ada dalam setiap halaman dari dokumen-dokumen tersebut secara lengkap dan teliti sampai dengan paham isinya? Alasannya simple, “saya sih percaya saja sama bapak/ibu, makanya saya gak baca lagi”. WTF? padahal didalam dokumen-dokumen tersebut pastinya terdapat hal-hal yang seharusnya diketahui oleh kita sebagai debitur supaya kedepan tidak dirugikan secara sepihak.


Contoh simpel lainnya, ketika kita kirim barang via kurir atau ekspedisi, asal tanda tangan diresi ketika diminta. Padahal biasanya dibagian belakang resi tersebuta ada syarat dan ketentuan terkait kebijakan yang berlaku untuk ekspedisi tersebut. Misalkan kebijakan retur, kebijakan barang hilang dan lain-lain. Jika kemudian kita berpikir “tidak apa-apa, toh kebijakan semua kurir rata-rata sama koq”, apakah benar kita sudah tahu aturan mainnya secara detail? Atau ketika muncul masalah atas barang yang kita kirim?

Contoh lain banyak. Bahkan bisa lebih luas lagi...

Dikantor, sebagai seorang staff, supervisor, manajer perusahaan, apakah kita selalu tanda tangan setiap dokumen setelah membaca dan memahami isinya secara benar? Atau sekedar mengejar deadline, asal cepat selesai?

Dikampus, sebagai seorang dosen pembimbing skripsi, apakah kita kerap asal tanda tangan skripsi mahasiswa hanya demi “membantu”mempermudah jalan kelulusan mahasiswa kita?

Dijalan, ketika kita sewaktu-waktu melanggar rambu lalu lintas dan kena tilang, apakah kita membaca isi pasal-pasal dalam surat tilang sebelum menandatangani surat tilang tersebut?


Semua jawabannya kembali kepada diri kita sendiri. Karena kita pun sering tanpa sadar telah melakukan “I Don't Read What I Sign”.......