• Narsis Tidak Dilarang

    Para ahli memperkiraan bahwa hanya ada 5% orang yang memiliki NPD. Dikutip dari Psych Central, laki-laki memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami NPD dibanding perempuan...

  • Cerita Hileud Jepang

    Semuanya bermula dari 20 tahun yang lalu...

  • My Bike My Pride

    Riding a motorcycle can be a great hobby for me. It can provide a sense of freedom and adventure, as well as an opportunity to enjoy the outdoors and explore new places...

23 January 2013

Intip Kekayaan Pribadi Cagub dan Cawagub Jabar

aLamathuR.com – Dalam beberapa minggu kedepan, masyarakat Jawa Barat akan kembali dihadapkan kepada sebuah pesta Demokrasi yang diberi label “Pilkada : Gubernur Jawa Barat”. Prosesi untuk memilih orang nomor satu di Jawa Barat ini menurut rencana akan dilangsungkan pada tanggal 24 Februari 2013. Dari lima pasangan kandidat (dengan berbagai latar belakang) yang maju sebagai calon Jabar-1, tahukan Anda siapa kandidat yang memiliki kekayaan pribadi dengan nilai terbesar? Berikut adalah data menurut rilis KPK.

Secara umum, kekayaaan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jabar jika diurutkan adalah sbb :

  1. Dikdik Mulyana, kekayaannya bernilai sekitar Rp 30,5 miliar dan US$ 99 ribu
  2. Deddy Mizwar, kekayaannya bernilai sekitar Rp 27,099 miliar
  3. Dede Yusuf, kekayaannya bernilai sekitar Rp 11,234 miliar
  4. Lex Laksamana, kekayaannya bernilai sekitar Rp 11 miliar
  5. Tatang Farhanul, memiliki kekayaannya bernilai sekitar Rp 5,7 miliar
  6. Irianto (Yance), kekayaannya bernilai sekitar Rp 4,6 miliar
  7. Ahmad Heryawan (Aher), kekayaannya bernilai sekitar Rp 4,5 miliar dan USD 36 ribu
  8. Rieke Dyah Pitaloka, kekayaannya bernilai sekitar Rp 2,7 miliar
  9. Cecep Nana Suryana, kekayaannya bernilai sekitar Rp 1,4 miliar
  10. Teten Masduki, kekayaannya bernilai sekitar Rp 1,4 miliar

Pertanyaannya, apakah data seperti ini berpengaruh terhadap elektabilitas kandidat?
Hanya masyarakat cerdas saja yang bisa memberikan jawaban terbaik!

22 January 2013

Bohong Juga Bisa Bikin Gemuk

aLamathuR.com – Jika saya melontarkan satu pertanyaan apakah Anda sepakat dengan artikel yang ditulis AN Uyung Pramudiarja di situs detik edisi 21 Januari 2013 dengan judul “Hati-hati, banyak bohong juga bisa bikin gemuk”. Jawaban Anda mungkin sangat setuju, biasa saja atau bahkan bisa sangat tidak sependapat. Apakah yang Anda pikirkan?

Logika yang dikemukakan dalam artikel tersebut memang sebenarnya cukup masuk akal, hanya saja jika saya kaitkan ini dengan pengalaman pribadi, maka ada sedikit benarnya juga.

Dulu, saya akui “trik berbohong” beberapa kali sempat saya pelajari dan praktekan. Hasilnya? Badan saja gemuk (biarpun masih dalam batas wajar). Sedangkan dalam beberapa tahun terakhir, ketika saya sudah insyaf dari kebiasaan berbohong, sekarang saya (agak sedikit) kurus. Entah ini ada hubungannya atau tidak. Setidaknya pola makan dan olahraga saya tidak ada bedanya antara dulu dan sekarang.

Tapi harap dicatat, pengalaman yang saya alami bukanlah untuk menjadi pembenaran untuk siapa saja yang saat ini sedang dalam masa terapi ingin menggemukkan badan, lantas jadi suka bohong. Tentu tidak. Karena pada hakikatnya, hal jujur tentu akan lebih mulia dibanding harus berbohong dalam hal apapun juga.

Bagaimana dengan Anda?

Banjir : Mirip Surat Kabar

aLamathuR.com – Dalam beberapa bulan terakhir, bangsa ini seperti tak henti-hentinya ditimpa bencana dan musibah yang tak terduga. Tanah longsor, gempa bumi, gunung meletus sampai yang terhangat adalah musibah banjir yang turut menenggelamkan sebagian besar wilayah ibukota Negara. Ada apakah dengan bumi kita? Atau, adakah yang salah dengan perilaku kita sebagai manusia yang notabene sudah diamatkan untuk menjaga bumi ini?

Memang, pada hakikatnya semua sudah digariskan sebagai sebuah takdir dari Yang Maha Kuasa. Tapi pertanyaannya adalah apakah ini sebatas sebagai ujian ataukah teguran? Setiap pribadi kita pasti memiliki pandangan masing-masing dalam mempersepsikan ini.

Tapi dibalik semua ujian (ataupun teguran) ini, satu hal yang tak boleh dilupakan manusia adalah mengambil hikmah dan pelajaran dibalik setiap datangnya musibah. Dalam arti, bukan hanya diam, pasrah, menerima saja, tanpa melakukan apapun yang seharusnya disyariatkan untuk diperbaiki, tetapi dengan mengambil langkah konkrit yang tujuannya bersifat preventif (pencegahan).


Terlebih jika kita perhatikan salah satu kecenderungan masyarakat dalam menanggapi musibah banjir yang sifatnya rutin, misalkan tahunan atau lima-tahunan seperti di Jakarta. Sebagian diantara mereka berkata “Ahh.. ini sudah biasa koq, sudah langganan”.


"Dipikirnya banjir mirip Surat Kabar kali, bisa langganan.... Ada-ada saja".