aLamathuR.com - Tidak semua hal perlu dibuat rumit. Yang benar cukup diletakkan di tempat yang benar, yang salah cukup diakui lalu diperbaiki. Tidak perlu menambah cerita, mengurangi angka, atau membuat kenyataan memakai kostum yang bukan miliknya. Hidup sudah cukup ramai tanpa harus diberi efek khusus.
Transparansi sebenarnya sederhana. Seperti kaca jendela, ia tidak banyak bicara, hanya membiarkan apa yang ada di baliknya terlihat. Tidak perlu takut pada sesuatu yang memang benar, karena kebenaran tidak membutuhkan dekorasi untuk berdiri tegak. Bahkan meja kosong pun tetap meja, meskipun diberi taplak mahal.
Pada akhirnya, semua kembali kepada hati nurani. Sistem bisa mencatat, manusia bisa mengawasi, kamera bisa merekam, tetapi ada satu ruang yang tidak membutuhkan listrik untuk menyimpan semuanya. Di sana, setiap keputusan punya alamatnya sendiri. Kadang alamatnya tidak tertulis, tetapi kita tahu persis ke mana harus pulang.
Karena itu, bekerja dan menjalankan amanah seharusnya bukan sekadar soal siapa yang melihat atau siapa yang akan bertanya. Ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar aturan manusia. Ada Yang Maha Melihat, bahkan ketika tidak ada seorang pun berdiri di depan kita. Maka ketaatan kepada Yang Maha Kuasa semestinya menjadi pusat dari setiap langkah, bukan sekadar tulisan kecil di sudut papan pengumuman.
Mungkin pada akhirnya hidup memang sesederhana itu: jangan mengambil yang bukan hak, jangan menyembunyikan yang seharusnya terlihat, jangan membenarkan sesuatu hanya karena bisa dilakukan. Kita tidak harus menjadi manusia sempurna, cukup menjadi manusia yang masih mau mendengar suara hati ketika dunia sedang ramai. Sebab ketika semua laporan selesai, semua angka ditutup, dan semua pintu kantor dikunci, yang tersisa hanyalah kita, hati nurani, dan Dia Yang Maha Mengetahui.


