• Narsis Tidak Dilarang

    Para ahli memperkiraan bahwa hanya ada 5% orang yang memiliki NPD. Dikutip dari Psych Central, laki-laki memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami NPD dibanding perempuan...

  • Cerita Hileud Jepang

    Semuanya bermula dari 20 tahun yang lalu...

09 August 2010

Saatnya Berubah Untuk Tampil Berbeda!

aLamathuRs.com - Mambaca tulisan Pak Guru Anas dalam beberapa minggu terakhir, terus terang telah membuat saya begitu terinspirasi. Ternyata belajar menjadi seseorang yang berbeda (atau malah lebih senang dicap kontroversial?) itu tidaklah sesulit yang pernah saya bayangkan selama ini. Pertanyaan sederhana yang saya renungkan beberapa hari lalu seperti ini: "mengapa sulit untuk membuat diri kita berbeda dengan orang lain, padahal secara kodrat, kita sudah diciptakan oleh Tuhan dengan kondisi yang tidak sama antara satu dengan yang lain, baik secara fisik maupun potensi".

Mungkin memang inilah momen tepat yang harus saya ambil untuk melakukan perubahan, lebih dari sekedar merubah template blog ini. Sebuah perubahan sederhana terhadap paradigma berpikir yang selama ini saya yakini. Mereposisi beberapa sudut pandang yang selama ini saya gunakan ketika menuangkan gagasan dalam menulis. Karena (saya yakin) inilah yang saya perlukan saat ini, BERUBAH UNTUK TAMPIL BEDA!

Hubungannya dengan dunia blogging saya? sederhana saja. Mulai saat ini saya akan menjadikan blog ini sebagai media penuangan gagasan saya sendiri, dengan gaya menulis saya sendiri. Kedepannya, dalam blog ini Anda tidak akan pernah lagi menemukan gaya menulis yang seperti portal berita (lihat tulisan-tulisan saya terdahulu). Mulai detik ini, saya akan mengikrarkan diri untuk  mulai merubah total blogging-style saya. Anda tidak akan lagi menemukan ajakan-ajakan promosi (bisnis online), iklan-iklan baris ataupun banner, dan semacamnya. Bukannya berniat untuk menutup peluang mencari rejeki tambahan dari dunia blogging, tapi ya gitu deh.. saya hanya anggap ini sebagai konsekuensi yang harus saya tanggung.

Bagian dari Strategi Jangka Panjang
Mungkin Anda akan menganggap saya terlalu idealis, tapi sebenarnya tidak juga. Ini hanyalah bagian dari strategi jangka panjang saja. Saya hanya berharap jika Tuhan mengizinkan saya untuk terus merawat blog ini, mungkin suatu saat apa yang pernah (dan akan) saya tulis dalam blog ini akan mendatangkan manfaat bagi saya sendiri, bagi Anda atau bagi generasi setelah saya. Dan itulah do'a saya..

Rencana sederhananya seperti ini: ijinkanlah saya tetap menulis pada blog ini untuk men-sharing gagasan dan pemikiran saya kepada Anda. Janganlah pernah ragu untuk mengkritik setiap pemikiran dalam tulisan yang saya tuangkan, karena hanya dengan kritiklah kita akan bisa melangkah jauh ke arah yang lebih baik. Jika suatu saat ribuan atau bahkan jutaan kritik dari Anda bisa membuat saya semakin dewasa dalam berpikir dan semakin baik ketika menuangkan gagasan dalam menulis, artinya itulah bukti kesuksesan Anda dalam membangun blog ini! Logikanya: Jika blog ini bisa sukses dikemudian hari (amin), setidaknya seperti blognya Pasricha (baca: 1000 awesome things from Neil Pasricha), maka tidak mustahil saya tak perlu menjadi karyawan lagi karena cukup menjadi blogger sejati saja... buktinya, Neil Pasricha, Markus Frind, Miles & Kato Leonard, Jason Calacanis, Tim Carter dan beberapa teman saya yang lainnya juga 'bisa hidup' hanya dari menulis blog.... saya, kenapa tidak? hahaaa...

08 August 2010

Mengintip Diskusi Seputar Nasib Buruh Pabrik Rokok

aLamathuR.com - Setelah beberapa waktu sempat vakum dari kampanye menghentikan kebiasaan merokok melalui sebuah grup yang sempat saya rintis di facebook, rasanya kangen juga untuk mengaktifkan kembali forum diskusi yang ada di grup tersebut. Dalam arsip forum diskusi tersebut yang kami angkat tidak tebatas kepada topik bagaimana menghentikan kebiasaan merokok, tapi lebih ke sharing tentang segala hal yang berhubungan dengan rokok, plus-minus rokok, sekaligus mencarikan solusi terbaik untuk setiap permasalahan yang ditimbulkannya.

Kemudian saya pun masuk ke salah satu topik diskusi berlabel nasib buruh pabrik rokok. Saya masih ingat kalau thread ini saya buat sudah beberapa bulan lalu, tapi hanya sekali-kali saya balik untuk memeriksa isi diskusinya. Thread tersebut saya buka dengan kalimat:
Apakah anda punya solusi atau usulan yang logis mengenai dilema bahaya rokok VS nasib para buruh pabrik rokok (jika pabrik rokok bangkrut semua)?

Menyusur dari satu respon ke respon yang lainnya yang ditulis oleh beberapa member yang turut berdiskusi, mata saya terhenti pada tulisan seorang kawan bernama August Fahd Khadhi. Beliau membalas topik ini dengan ide sederhana, ujarnya: 
Expor saja rokok-rokok kita ke luar negeri biar mereka yang menjadi konsumennya. sementara buruh pabrik rokok kan bisa tetap bekerja.

Memang sepertinya tak ada yang istimewa dari ide ini. Bukannya saat ini negara kita juga sudah mengekspor rokok ke luar negeri dalam jumlah yang cukup banyak? apalagi untuk pasar rokok kretek, ekspor rokok Indonesia tidak bisa dianggap kecil. Hanya saja, jika permintaan pasar dari dalam negeri tetap tinggi, mana mungkin pengusaha rokok kita akan melewatkan pangsa pasar lokal yang cukup menggiurkan seperti saat ini? Jawabannya: MUSTAHIL!

Lanjut ke respon berikutnya dari kawan Oji Hanafi. Sepertinya member yang satu ini memilki kepedulian yang cukup tinggi dengan permasalahan yang diangkat kali ini. Lihatlah responnya yang saya kutip dari forum:

Memang masalah ini juga menjadi salah satu kendala yang dihadapi Indonesia dalam membersihkan negaranya dari Rokok. Di satu sisi Jika pemerintah menutup pabrik rokok, maka para karyawan dan produsen akan bangkrut, selain itu rokok juga merupakan salah satu sumber pemasukan negara yang cukup besar ,pabrik Rokok juga mulai mengembangkan jangkauannya, dengan menjadi sponsor olahraga (misalnya Djarum ISL), sekolah bulu tangkis dsb... Namun di sisi lain, kita juga tidak mau negara kita dipenuhi orang-orang yang merokok, yang berarti dapat mengurangi usia hidup seseorang, dan sebenarnya menambah beban para perokok sendiri.


Menurut saya, mungkin yang dapat kita lakukan saat ini jangan langsung menutup pabrik rokok begitu saja. lebih baik, pemerintah memanfaatkan pajak- pajak (termasuk dari pabrik rokok itu sendiri) dan sumber pemasukan lainnya untuk membuat suatu usaha/ bisnis yang dapat menyerap banyak tenaga kerja dan menghasilkan uang banyak. Dengan begini, (saya berharap) para buruh2 rokok tertarik untuk masuk kedalam usaha ini. Pemerintah juga harus giat mensosialisasikan pentingnya Wirausaha bagi masyarakat, dan memberikan kemudahan bagi masyarakat yang ingin memulainya. jadi, pemerintah dapat mengalihkan kerjaan para buruh rokok, ke pekerjaan lain yang bermanfaat, namun penghasilannya sama (kalau bisa lebih besar).

Namun, sekali lagi, ucapan memang lebih mudah dari perbuatan. masih ada beberapa masalah dalam pelaksanaan program ini...


  1. Apakah bisa pemanfaatan pajaknya dikelola dengan baik? sekarang sedang marak kasus Markus di perpajakan (walaupun saya yakin, gak semua orang pajak kaya gitu). tapi paling tidak, hal ini dapat mengurangi kepercayaan masyarakat akan pengelolaan pajak.
  2. Usaha apa yang dapat menyerap tenaga kerja banyak dan berpenghasilan banyak juga? apakah dibidang pertanian (cocok tanam, ternak, perikanan)? atau pekerjaan lain?
  3. Maukah para pekerja buruh rokok pindah dari pekerjaannya yang lama? takutnya, para buruh tidak percaya dengan keuntungan yang dihasilkan, takut lebih rendah dari penghasilan mereka di pabrik rokok.
  4. Mau dikemanakan para produsennya? okelah kalo misalnya para buruh berpindah pekerjaan, namun apa produsennya mau untuk mencari usaha baru? karena usaha yang mereka rintis sejak dulu, tidaklah mudah. seperti pabrik2 besar kaya Djarum, Sampoerna dsb, maukah mereka menutup pabriknya? bisa saja mereka menaikkan upah buruh, agar tidak pindah pekerjaan
  5. Apakah usaha baru yang dijanjikan pemerintah akan benar2 efektif? bagaimana jika usaha tersebut ternyata gagal, atau hasilnya kurang maksimal? bisa saja para buruh akan kembali lagi menjadi buruh rokok.

Analisa yang bagus kawan Oji, salut!. Kita tunggu respon pembaca yang memiliki kepedulian sama dengan Anda tentang hal ini.

Susur forum berlanjut dengan respon kawan Eka Ariyono dan Pyn Piter. Saran yang cukup menggelitik sekaligus menyindir tampaknya. Idenya kira-kira seperti ini: "Export aja rokok ke luar negeri, harga rokok di dalam negeri dinaikin aja Rp25.000,- keatas per bungkusnya supaya (maaf) bukan rakyat miskin yg konsumsi (orang miskin dilarang sakit)". Pesan yang disampaikannya sebenarnya bukan semata persoalan harga 25.000 nya, tetapi bagaimana agar orang berpikir dua-tiga kali sebelum membeli sebungkus rokok. Jika harga yang dipatoknya cukup tinggi setidaknya akan meminimalisir konsumsi yang berlebihan terhadap rokok.

Anda tertarik berdiskusi seputar masalah rokok? silahkan bergabung dengan kami di grup Facebook/GNAR

06 August 2010

Menulislah Seperti "Miss Blogger Seadanya"

aLamathuR.com - Hari ini, jam tangan tangan saya sudah menunjukkan hampir pukul 5 (lima) sore. Tak seperti biasanya, pekerjaan kantor di awal bulan ini saya rasakan tidak seperti dibulan-bulan sebelumnya. Hari ini begitu semangat, meskipun dengan deadline tugas yang segudang, ternyata semuanya masih dikerjakan sambil tersenyum. Intinya, sepanjang hari ini pekerjaan di kantor benar-benar dinikmati...

Rehat sejenak, sambil menikmati secangkir kopi hitam panas di depan monitor komputer. Tak seperti biasanya, hasrat untuk menulis kali ini tidak didukung oleh ide dan topik yang jelas. Entahlah, mungkin hari ini terlalu semangat dengan pekerjaan menjelang tutup buku laporan, jadi belum sempat memikirkan hal lainnya. Untungnya ya itu tadi.. karena pekerjaan hari ini begitu saya nikmati!

Sesaat kemudian, saya mulai membuka notepad. Menulis beberapa baris kalimat menjadi paragraf-paragraf. Meskipun masih belum jelas apa yang akan ditulis, tetapi.. lanjut sajalah..!!!

Sampai pada paragraf ini, kemudian teringat dengan sebuah tulisan dari salah satu sahabat saya di dunia maya, saya sebut dia sebagai "Miss Blogger Seadanya". Apa yang dia tulis dalam blognya hanyalah sesuatu yang benar-benar sederhana, jauh dari kesan njelimet dan minim dengan istilah-istilah asing. Bahasan tentang apa yang dia alami sehari-hari sepertinya cukup menarik minat orang-orang untuk meramaikan tulisan-tulisannya. Dalam benak saya sempat terpikir, apakah pengunjung blognya itu teman-temannya sendiri, rekan kerjanya atau siapa? sebegitu menarikkah apa yang dia bahas dalam tulisanya? Lebih menarik mana dibanding dengan tulisan saya yang bertema "Nice Info Syndrome" misalnya...?

Setelah coba saya analisa secara sederhana dari apa yang dia sering tulis, ternyata apa yang saya temukan.. TETAP BIASA-BIASA saja..!!! Hanya ada beberapa poin penting yang saya temukan disana, dan terus terang mungkin itulah yang membuat blog mereka jadi unik, ramai pengunjung, banyak dikomentari dan seterusnya. Inilah yang saya temukan disana:
  1. Tulisan-tulisan yang cukup inspiratif, disajikan dengan bahasa sederhana dengan sudut pandang murni dari si empunya blog. Originalitas seperti inilah yang masih saya pelajari dalam menulis sampai dengan saat ini.
  2. Membahas topik yang sedang hangat (apalagi yang masuk top10 di portal-portal berita) bagi dia ternyata bukanlah suatu keharusan. Untuk hal ini saya menanggapinya dari dua perspektif:  Pertama: Perspektif para master SEO. Menurut para master SEO, (katanya) salah satu jurus yang bisa diapliaksikan dalam menulis blog adalah dengan memilih topik yang hangat (misalnya beberapa blogger akan mereferensikan google trends sebagai rujukan topik posting). Dengan mengangkat topik-topik yang sedang hangat ini maka akan dapat mengatrol posisi blognya dimata mesin pencari sehingga memperbesar peluang orang mengunjungi blognya. Para master SEO biasanya menggunakan trik-trik tertentu agar tulisan dalam blognya bisa mendapatkan rating yang bagus, dan mendapatkan banjir traffic ke blognya. Kedua: Perspektif bukan master SEO. Tidak jarang blogger yang secara tampilan terlihat 'seadanya' bisa lebih populer dibanding dengan blog yang terlihat 'wah'. Blogger 'seadanya' ini menggunakan senjata kemampuannya dalam menyusun kata menjadi kalimat dan paragraf. Padahal apa yang ditulisnya mungkin hanya sesuatu yang sangat sederhana, terlihat sepele, bahkan kadang diabaikan oleh sebagian orang. Dengan rangkain kata yang menarik, mereka mampu menghipnotis para pengunjung agar terpancing membaca, merespon, dan sekaligus dibuat penasaran untuk kembali berkunjung pada tulisan selanjutnya. Dan inilah yang akan menjadi the Real Loyal Visitor untuk sebuah blog!
  3. Poin berikutnya, adalah yang paling menggelitik benak saya. Saya melihat tampilan blog "Miss Blogger Seadanya" ini bersih dari iklan, refferal dan semacamnya! apalagi dari penempatan widget yang bisa mengganggu kenyamanan membaca pengunjung blog. Untuk hal ini, saya menyimpulkan bahwa motivasi dia dalam  membuat blog memang hanya untuk menulis dan men-sharing apa yang dialami, apa yang dirasakan, dan apa yang diketahuinya (tentunya dengan gaya bahasa dia sendiri).

Tiga pelajaran inilah yang saya dapatkan dari "Miss Blogger Seadanya" ini. Dari gaya tulisan dialah saya juga belajar bagaimana menulis dengan gaya sendiri dan dengan bahasa sendiri. Dan ternyata, terkait menulis itu saya melihat setidaknya ada 3 (tiga) hal yang mungkin Anda setuju, atau mungkin juga tidak, bahwa:
  1. Mencari ide menulis itu sangat mudah.
  2. Menuliskan ide dalam beberapa kalimat dan paragraf itu mudah.
  3. Menentukan gaya bahasa menulis sendiri itu gampang-gampang susah, tapi tetap bisa dilatih.
  4. Membuat tulisan menarik itu bukan hanya bicara tentang bakat, tetapi diasah dan belajar, itu jauh lebih penting.
  5. Membagikan apa yang kita tulis melalui sebuah blog itu jauh lebih menyenangkan dari pada menyimpannya dalam sebuah buku harian yang hanya disimpan di dalam lemari atau di bawah bantal.

Jadi, sebagai penutup dari tulisan ini, spesial untuk Anda saya mengucapkan: "Selamat berburu ide!", kemudian "Selamat menuangkan ide!", kemudian "Selamat melatih gaya bahasa Anda!", dan terakhir "Selamat membagikan tulisan Anda dengan orang lain!"


05 August 2010

1000 Awesome Things from Neil Pasricha

aLamathuR.com - Depresi karena membaca berita-berita yang tidak menyenangkan setiap hari ditambah dengan situasi kegagalan dalam pernikahannya, seorang pria Kanada bernama Neil Pasricha memutuskan untuk mencoba fokus dalam dunia blogging. Dia menuliskan ide, pemikiran, opini dan hal-hal yang sederhana dalam satu postingan 'saja' setiap hari dalam sebuah blog yang dia buat.

02 August 2010

Efektifkan Cara Anda Berjabatan Tangan!

aLamathuRs.com
- Dari jaman dulu sampai sekarang, berjabatan tangan seakan sudah menjadi ritual sederhana yang wajib dilakukan sebagai pembuka setiap kesempatan pertemuan, termasuk dalam dunia usaha. Pertemuan dengan rekan kerja, klien, atau siapapun biasanya diawalin dengan berjabatan tangan. Salah satu maksud dari ritual ini mungkin agar dapat lebih mengakrabkan diantara yang berjabatan tangan tersebut. Dengan demikian, kecanggungan dalam suatu pertemuan setidaknya dapat diminimalisir.
 
 
Tapi ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan ketika Anda berjabatan tangan dengan orang lain, apalagi ketika di tempat kerja Anda akan menghadapi klien penting perusahaan. Sikap yang kita tunjukkan ketika berjabatan tangan pasti akan menampilkan sebagian besar kesan seseorang terhadap kita. Mungkin Anda juga pernah merasa jengkel ketika berjabatan tangan dengan orang lain yang memberikan jabatan tangan yang amat lemah lunglai atau terkesan malas berjabatan tangan dengan Anda. Atau Anda juga mungkin lebih jengkel ketika jabatan tangan orang lain dirasakan terlalu keras bersemangat!

Karena itu, agar orang lain menangkap kesan yang baik dari kita sewaktu berjabatan tangan, maka perhatikanlah beberapa hal berikut:

  1. Tataplah mata lawan bicara Anda saat berjabatan tangan dengannya. Tatapan mata dapat menunjukkan rasa hormat dan ketertarikan terhadap sebuah pertemuan. Selain itu, dengan berjabatan tangan sambil menatap mata lawan bicara dapat menumbuhkan keyakinan dan kepercayaan diri.
  2. Jangan terlalu sok-akrab. Perhatikanlah bahwa kadang-kadang ada orang yang bertindak berlebihan sewaktu berjabatan tangan. Mereka menarik tangan lawan dan secara keras mengayunkan ke atas atau ke bawah. Hindarilah hal ini jika sekiranya dapat membuat orang lain merasa kesal dengan Anda.
  3. Berjabat-tanganlah dari telapak ke telapak tangan. Seseorang akan merasa tidak dihargai ketika jabatan tangannya dibalas dengan 'jabatan jari'. Dengan demikian kesan yang tampak adalah kemalasan dan ketidaknyamanan dalam berjabatan tangan, dan ini mungkin akan menyinggung perasaan lawan bicara. Ingatlah bahwa berjabatan tangan dari telapak ke telapak dapat menciptakan suasana yang lebih bersahabat diantara kedua pihak.
  4. Kondisikan diri Anda dengan siapakah berjabatan tangan. Perlakuan jabat tangan dengan orang tua atau jompo tentu harus dibedakan dengan orang muda yang masih bugar secara fisik. Jabatan tangan yang terlalu kencang dengan orang tua atau jompo mungkin justru dapat menyakitinya. Poin pentingnya, melukai seseorang saat berjabatan tangan mungkin saja bukannya membuka pintu hubungan baik, yang ada malah menutup setiap kesempatan atau peluang yang mungkin akan Anda dapatkan.
  5. Ingatah selalu untuk menciptakan jabat tangan yang lebih bermakna. Jika Anda berjabatan tangan lalu dengan segera menarik tangan Anda dan melanjutkan pembicaraan seolah-oleh tidak terjadi apa-apa, maka orang akan menganggapnya sebagai sebuah jabatan tangan yang tak berarti dan tidak tulus. Biasakanlah untuk mulai memberikan lawan Anda beberapa saat untuk menunjukkan perhatian Anda melalui kontak mata atau pembicaraan sebelum Anda menarik tangan Anda. Kesan yang mungkin bisa dirasakan lawan Anda adalah bahwa dia merasa sedang bertemu dengan orang yang layak.

Dengan beberapa tips tersebut, maka yakinlah bahwa jabatan tangan Anda akan mendatangkan manfaat yang lebih, baik untuk diri Anda sendiri maupun untuk lawan bicara. Dengan kesan baik yang orang lain tangkap dari cara Anda berjabat tangan dengan mereka maka disadari atau tidak, Anda sedang membangun sebuah relasi yang berkualitas, baik untuk relasi bisnis, maupun untuk hal yang sifatnya lebih personal.