• Narsis Tidak Dilarang

    Para ahli memperkiraan bahwa hanya ada 5% orang yang memiliki NPD. Dikutip dari Psych Central, laki-laki memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami NPD dibanding perempuan...

  • Cerita Hileud Jepang

    Semuanya bermula dari 20 tahun yang lalu...

22 July 2009

New Keynesian, Sebuah Pemikiran Ekonomi

Keynesian

aLamathuR.com
-
Jika mengarah pada kajian dalam beberapa literatur ekonomi, dimana penganut aliran Ekonomi New Keynesian berpendapat bahwa sintesis yang timbul sebagai respon terhadap kritik ekspektasi rasional pada dasarnya adalah benar, yakni asumsi yang menyatakan bahwa nilai-nilai ekspektasi perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan perekonomian nasional, dimana nilai tersebut harus serasional mungkin berdasarkan informasi yang tersedia. Mereka juga berargumentasi bahwa masih cukup banyak yang harus dipelajari tentang sifat-sifat dan karakteristik yang tidak selalu sempurna dalam kondisi pasar yang berbeda, disamping juga tentang implikasi dari ketidak-sempurnaan tersebut bagi evolusi makroekonomi.

Salah satu kajiannya berfokus pada aspek menentukan tingkat upah dalam pasar tenaga kerja. Tingkat upah yang efisien muncul dari suatu gagasan yang apabila upah yang diterima oleh pekerja adalah terlalu rendah mengakibatkan hal-hal seperti (a) pekerja tidak termotivasi untuk menghasilkan ouput yang optimal (bermalas-malasan), (b) masalah tentang moral dalam suatu perusahaan, (c) kesulitan didalam mendapatkan dan mempertahankan pekerja yang berkualitas, dan lain sebagainya. Salah seorang yang sangat berpengaruh terhadap issue tersebut adalah George Akerlof dari Berkeley, yang mempunyai gagasan tentang suatu “norma”, yang mengkaji apa yang sebenarnya disebut dengan “fair” dan “unfair”. Penelitian ini menggali aspek sosiologi dan psikologi yang selama ini ditinggalkan, serta menjelaskan implikasinya terhadap dunia makroekonomi.

Hal lain yang juga diteliti oleh aliran New Keynesian adalah peran dari ketidaksempurnaan dalam pasar kredit. Diasumsikan bahwa dampak dari kebijakan moneter akan bekerja melalui tingkat suku bunga, dimana perusahaan atau individu dapat meminjam uang dengan tingkat suku bunga yang telah ditentukan. Didalam kenyataannya, perusahaan dan individu tersebut meminjam uang dari bank, dimana bank sering merendahkan potensi yang dimiliki oleh peminjam dibandingkan dengan keinginan bank untuk memberikan pinjamannya pada tingkat suku bunga yang telah ditentukan. Mengapa hal ini dapat terjadi, dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi pandangan kita tentang bekerjanya suatu kebijakan moneter menjadikan subyek-subyek kajian dari berbagai penelitian, utamanya oleh Ben Bernanke dari Princeton.

Hal lain yang juga dikaji adalah tentang kekakuan dari nilai nominal. Fischer dan Taylor menyatakan bahwa keputusan untuk merubah tingkat upah atau harga secara tiba-tiba akan mengakibatkan output dapat menyimpang dari tingkat keseimbangan dalam waktu yang cukup lama. Kesimpulan ini menimbulkan berbagai isu, apabila perubahan yang tidak terduga tersebut bertanggungjawab, paling tidak sebagian, terhadap fluktuasi perekonomian, mengapa penentu tingkat upah atau penentu tingkat harga tidak dapat mensinkronkan suatu keputusan? Mengapa harga dan upah tidak disesuaikan lebih sering? Mengapa tidak semua harga dan upah berubah, katakanlah setiap tanggal 1 setiap bulannya? Didalam menjawab issu-issu tersebut, Akerlof dan N. Gregory Mankiw (Harvard University) telah menurunkan suatu hasil yang sangat penting dan menakjubkan, yang sering disebut dengan biaya menu untuk menerangkan fluktuasi output, yaitu: Setiap penentu harga atau upah tidak akan sangat jauh berbeda sebagaimana kapan dan seberapa seringnya seseorang merubah upah atau harganya sendiri (bagi pengecer, merubah harga setiap hari atau setiap minggu tidak akan memberikan perbedaan yang mencolok terhadap keuntungan). Oleh karenanya, meskipun biaya yang dipergunakan untuk melakukan perubahan terhadap harga sangat kecil, seperti misalnya biaya untuk mencetak sebuah menu, akan mengakibatkan penyesuaian harga yang sangat jarang dan tak terduga, dan pada akhirnya kepada fluktuasi agregat output yang direspon oleh pergerakan permintaan agregat. Singkatnya, keputusan-keputusan yang tidak banyak berpengaruh pada tingkat individu (seberapa sering untuk merubah harga atau upah) akan mengakibatkan dampak yang luas secara agregat (penyesuaian yang lambat dari tingkat harga, dan karenanya pengaruh yang besar terhadap pergerakan dari permintaan dan output agregat).

Dapat disimpulkan secara singkat bahwa aliran New Keynesian menggali lebih dalam kepada isu-isu yang berkaitan dengan peranan dari ketidaksempurnaan pasar terhadap fluktuasi perekonomian.

16 July 2009

Benarkan Cinta Tak Harus Selalu Memiliki?

Salah besar! …setuju? setuju? setuju.. Bohong kalo ada yang bilang “gue rela berkorban demi cinta karena cinta tak selalu harus memiliki!”. Yang ada, kalo dia ngomong gitu berarti dia MENYERAH!,atau jika seseorang ngomong gitu berarti rasa yang (katanya) dia punya buat seseorang memang bukan 100 % CINTA! Bisa jadi dia hanya sampai kepada batas sayang atau suka secara lahiriah, atau bahkan secara NAFSU! gila…. karena cinta yang sebenarnya adalah “sebuah perjuangan tiada akhir untuk mendapatkan dan sekaligus mempertahankan apa yang dicintainya”,

05 July 2009

Bhinneka Tunggal Ika

aLamathuR.com - Sebagai semboyan bangsa Indonesia, Bhineka Tunggal Ika mengandung makna yang penting karena pengertian atau makna yang terkandung dalam seloka tersebut itulah kiranya yang menuntun pemahaman bangsa Indonesia bahwa walaupun kita memiliki keanekaragaman dalam banyak hal akan tetapi tetap satu jua adanya.

Bangsa Indonesia terdiri atas bermacam-macam suku bangsa yang mempunyai keanekaragaman sejarah, adat istiadat, bahasa serta kebudayaan sendiri-sendiri. Keanekaragaman tersebut tidak menjadi penghalang, bahkan dianggap sebagai kekayaan bangsa Indonesia. Hal itu diwujudkan di dalam semboyan nasional Indonesia “Bhineka Tunggal Ika” seperti yang terdapat pada lambang negara Indonesia. Ungkapan Bhineka Tunggal Ika tersebut berasal dari bahasa Sanskrit yang terdapat dalam buku Sutasoma karangan Mpu Tantular pada zaman Majapahit.

Semenjak masa-masa permulaan kemerdekaan bangsa Indonesia semboyan tersebut senantiasa digunakan sebagai semboyan nasional digunakan untuk mendorong semangat persatuan bangsa. Semboyan tersebut memesankan keanekaragaman Indonesia yang senantiasa dipelihara dan dipandang sebagai asset nasional Indonesia.

Menurut perkiraan para ahli, bangsa Indonesia terdiri atas lebih dari 300 suku bangsa atau golongan etnik (Depdikbud, 1984;149). Sebagai contoh dapat disebut sukubangsa Aceh, Gayo, Batak, Minagkabau, dan Melayu di Sumatera; Suku Bangsa Jawa dan Sunda di Jawa; Suku Bangsa Banjar dan Dayak di Kalimantan; Suku Bangsa Bugis, Mandar, Toraja, Makasar, Buton dan Minahasa di Sulawesi; Suku Bangsa Ambon, dan Kei di Maluku; Suku Bangsa Irian di Papua; Suku Bangsa Timor, Flores, dan Sumba di Nusa Tenggara Timur, Suku Bangsa Sasak dan Bima di Nusa Tenggara Barat serta Suku Bangsa Bali di Bali.

Perkembangan sejarah dan kesatuannya dengan lingkungan alam yang didiami selama berabad-abad memberikan cirri khusus pada kebudayaan Suku Bangsa tersebut. Karena itulah setiap Suku Bangsa memiliki ciri tersendiri yang berbeda-beda dengan suku yang lainnya, contoh nyata adalah bahasa, tiap daerah di Indonesia memiliki bahasa yang berbeda-beda. Misalnya Orang Aceh berbahasa Aceh, orang Tapanuli berbahasa Batak, orang Sumatera Barat berbahasa Minang, orang Sulawesi Selatan berbahasa Bugis dan Ternate, dan orang Sunda berbahasa Sunda. Apa yang dikemukakan tersebut hanya sekedar contoh keanekaragaman dalam bahasa. S.J Esser mencatat 102 bahasa daerah di seluruh Nusantara, yang jika dirinci lagi dialeknya ,maka jumlahnya akan jauh lebih besar, di Papua saja terdapat 185 bahasa lokal.

Namun demikian bahasa Melayu (Melayu kuno) sudah digunakan sebagai bahasa pengantar di Nusantara sejak abad ke-13. Hal itulah yang mempermudah bangsa Indonesia menyepakati menetapkan bahasa Indonesia melalui Sumpah Pemuda pada tahun 1928 untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, untuk lengkapnya beberapa pengelompokan bahasa dapat dikemukakan sebagai berikut :

  • Kelompok Sumatera
  • Kelompok Kalimantan
  • Kelompok Jawa
  • Kelompok Bali-Sasak
  • Kelompok Gorontalo
  • Kelompok Tomini
  • Kelompok Toraja
  • Kelompok Loinang
  • Kelompok Banggai
  • Kelompok Bungku-Laki
  • Kelompok Sulawesi Selatan
  • Kelompok Muna-Butung
  • Kelompok Bima-Sumba
  • Kelompok Ambon-Timor
  • Kelompok Sula-Bacaan
  • Kelompok Halmahera Selatan dan Teluk Cendrawasih Papua
  • Kelompok Halmahera Utara
  • Bahasa-bahasa Papua Tengah dan Selatan
  • Bahasa-bahasa Papua pantai utara
  • Kelompok Sulawesi Utara
  • Melanesia (Bahasa Janefa, Sarmi, dan lain-lain)
(Depdikbud,1984;h. 158-160)


Dalam kehidupan kemasyarakatan, dapat dilihat bahwa aspek yang menonjol adalah desa, kekerabatan dan kehidupan gotong royong. Hal-hal yang baik seperti yang sudah dilakukan secara turun temurun dan sangat bermanfaat itu haruslah dilestarikan dan dikembangkan secara terus menerus. Kesatuan hidup territorial yang disebut desa itu terdapat hampir diseluruh Indonesia dengan nama yang berbeda, sebagai contoh misalnya adalah benua di Nias, gamponng di Aceh, kuta di Karo, Nagari di Sumatera Barat, desa di Jawa, yang kesemuanya itu dikepalai oleh seorang kepala desa atau Lurah.
 

01 July 2009

Kenapa ngeBlog ?

NgeBlog adalah penyaluran hobi menulis untuk berbagi info atau pengalaman kepada orang-orang seperti Anda. Terlepas dari apakah apa yang saya posting disini benar-benar dibaca oleh Anda atau sekedar dilihat-lihat sekilas lantas kemudian Anda tinggalkan komentar alakadarnya seperti 'nice info gan..!!!'

Dengan ngeBlog, saya bisa menyalurkan uneg-uneg yang biasanya muncul tidak tentu waktunya, bisa pagi, bisa siang, sore atau tengah malam sekalipun! Dari ngeBlog juga saya selalu berharap untuk mendapatkan banyak teman (komunitas), baik satu pemikiran maupun beda... dan salah satunya adalah Anda!!!

Mudah-mudah dari blog ini suatu saat saya bisa menghasilkan 'sesuatu' yang bisa dibanggakan. Entah apakah itu sebuah buku, ataupun 'sekedar' menjadi sumber penghasilan yang bersifat pasif income (hahahaa....). Tapi untuk sampai kepada tahap pasif income saya sadar betul, sekarang belum waktunya karena masih harus banyak belajar dan menimba ilmunya dari para blogger senior seperti : bla bla blaa....

Yang penting adalah saya harus terus menulis, menulis dan menulis!

Siapakah aLamathuR?

aLamathuR, nama yang diwariskan bapak saya 21 tahun yang lalu. Nama ini menurut bapak saya sih keren (tidak ada duanya), meskipun maknanya sendiri masih saya cari sampai dengan saat ini. Dan saya tak akan lelah mencari tahu sekalipun harus mendaki gunung dan menyebrangi lautan... dan mungkin karena alasan ini juga secara tidak sadar membentuk jiwa saya sebagai seorang petualang (meskipun belum sampai pada tahap petualang sejati). hahaaaa...

Seorang coffee-holic, mulai dari kopi pahit sampai dengan kopi krimer pun jadi.. tapi kalau dibandingkan dengan alm. mbah surip, ya jelas masih kalah jauh lah...

Kegiatan harian disibukkan dengan berkarya (di perusahaan orang), main musik (modern & etnik), ngurus kucing, ngeGame Football Manager, nulis blog, download lagu (4shared-minded, anti beli cd original), ngelapin gitar kesayangan (yang setia menemani sejak 15 tahun yang lalu), kampanye ngurangin kebiasaan merokok

beresin kamar (meskipun biasanya rapinya cuman bertahan 1 atau 2 hari), ngelamun, baca majalah pinjeman dari kantor, ngumpulin kaos oblong, ngulik CorelDRAW dan Photoshop (meskipun skill desainnya gitu-gitu aja dari dulu), main futsal (kalo lagi ada duit), jalan-jalan sambil cari objek yang bisa difoto, dan masih banyak lagi...